Setelah lama ISL berhenti
Banyak orang-orang yang terimbas dari dampak masalah sepak bola negri ini dari orang kecil sampai orang besar
contohnya :
- Pemain yang tidak ada kompetisi
- Penjualan (CINDRAMATA) kaos sepak bola sal jadi terhenti
- Tukang parkir tida ada mobil yang parkir di stadiun
- Seponsor yang tidak bisa memasang gambar nya
- Dll
Saran Penulis :
- Sebaiknya Masalah ini jangan berlarut larut karna ini bisa mempengaruhi ekonomian rakyat indonesia
- seharus semua orang jangan selalu menahan kan egonya masing-masing
- Bola itu bagaikan makanan yang tak akan terpisahkan
Tak terasa setelah
sukses dengan turnamen Piala Presiden beberapa waktu yang lalu, kini
turnamen sepakbola serupa yang mempertemukan tim-tim elit kompetisi Liga
Super Indonesia yang bertajuk Jenderal Sudirman Cup 2015 yang diadakan
oleh promotor Mahaka Sport Entertainment telah memasuki fase-fase
akhir/babak penentuan. Dua tim besar ISL yaitu Mitra Kukar dan Semen
Padang sudah memastikan diri lolos ke partai puncak dan akan bertarung
pada 24 Januari 2016 mendatang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Jakarta.
Kabarnya setelah berakhirnya turnamen Piala Jenderal Sudirman ini, akan
digelar beberapa event serupa yang akan dijalankan dengan format
Turnamen, salah satunya yang paling dekat ialah Piala Gubernur
Kalimantan Timur. Menjadi dilema dan pertanyaan dikalangan pclaku
sepakbola dan para pecinta sepakbola Nasional saat ini ialah terkait
efektivitas ajang-ajang turnamen ini bagi perkembangan persepakbolaan
Indonesia kedepannya.
Inisiatif untuk menyelenggarakan turnamen-turnamen pasca terhentinya
kompetisi ini adalah sesuatu yang positif dan patut diapresiasi, karena
secara tidak langsung, diadakannya turnamen-turnamen tersebut bisa
sejenak menghidupkan kembali atmosfer sepakbola Indonesia yang nyaris
redup pasca vakumnya kegiatan-kegiatan persepakbolaan termasuk kompetisi
dibawah naungan Federasi (PSSI) buah dari kembali pecahnya konflik di
persepakbolaan Indonesia.
Namun menjadi dilematis ketika keberadaan turnamen ini sendiri tidak
mampu menjawab sepenuhnya persoalan yang terjadi di persepakbolaan
Indonesia khususnya yang berkaitan langsung dengan nasib para pelaku
sepakbola maupun klub-klub sepakbola di Indonesia akibat vakumnya
kompetisi. Turnamen-turnamen yang diadakan pasca terhentinya kompetisi
tidak memiliki jenjang dan arah yang jelas bagi para kontestannya serta
tak mampu mengakomodasi seluruh klub sepakbola resmi yang ada di
Indonesia.
Turnamen yang diadakan beberapa waktu belalakangan hanya mampu
mengakomodasi sekitar 15 sampai 30 klub sepakbola dalam satu event,
sedangkan klub sepakbola resmi di Indonesia menyentuh angka puluhan
bahkan hampir ratusan. Sebagai catatan saja untuk dua kompetisi
professional dibawah naungan operator PT.Liga Indonesia yaitu Indonesia
Super League dan Divisi Utama jumlah klub yang terdaftar kurang lebih
sebanyak 74 klub, dimana 18 klub berasal dari kompetisi ISL dan 56 klub
berasal dari kompetisi divisi utama, sedangkan tim-tim lainya baik
divisi satu, dua dan tiga tergabung di Liga Nusantara yang dikelola oleh
Badan Liga Amatir Indonesia atau BLAI.
Artinya banyak sekali klub dan juga para pelaku sepakbola yang tidak
terakomodir dari event-event turnamen yang diadakan pasca terhentinya
kompetisi dipertengahan 2015 lalu. Jika mencoba untuk bersikap
realistis, turnamen-turnamen yang diadakan oleh berbagai pihak saat ini
tak lebih hanya sebatas hiburan semata dan ajang pelipu lara pasca
terhentinya kompetisi, khususunya bagi sebagian pelaku sepakbola dan
para pecinta sepakbola Nasional.
Kondisi dilematis lainnya juga harus dihadapi oleh manajemen klub maupun
para pemain, salah satunya ialah terkait masalah kontrak. Jangka waktu
penyelenggaraan turnamen yang pendek atau terbatas, membuat beberapa
klub kontestan turnamen nampak kebingungan untuk menyodorkan kontrak
kepada pemainnya, karena biasanya durasi waktu kontrak yang disodorkan
manajemen klub kepada pemain rata-rata berdurasi (minimal) selama satu
musim kompetisi.
Akibatnya banyak pelaku sepakbola baik pemain maupun pelatih yang
akhirnya memilih jalan untuk mencoba mengadu nasib di kompetisi Negara
lain dikawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, hingga ke
Timor Leste yang iklim kompetisinya sebenarnya bisa dibilang sebanding
bahkan tak lebih kompetitif dibandingkan kompetisi Liga Indonesia.
Ketidakjelasan terkait kompetisi dan juga kontraklah yang menjadi akar
masalahnya.
Baik pemain maupun asosiasi pemain sendiri sebenarnya sudah meminta
pihak klub untuk memberikan kontrak yang jelas kepada pemain sebelum
mengikuti event atau ajang sepakbola seperti turnamen ini, karena urusan
kontrak ini bukan hanya terkait masalah royalti saja, melainkan jaminan
(tanggung jawab) dari pihak klub yang mereka dapatkan ketika mengalami
kendala tertentu seperti masalah cedera yang dapat menimpa mereka saat
berlaga di ajang atau turnamen sepakbola tersebut.
Bahkan Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) telah
mengeluarkan pernyataan dengan memboikot serta menolak untuk bermain di
semua turnamen yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini hingga
ada kejelasan dari para pihak yang berkepentingan, terkait kepastian
kembali digelarnya kompetisi reguler yang resmi dan professional.
(sumber)
Memang benar bahwa keberadaan turnamen-turnamen ini sendiri mampu
menepis anggapan sebagian pihak bahwa sepakbola Indonesia telah mati
karena berhentinya kompetisi, namun apakah benar jika keberadaan
turnamen tersebut mampu mengembalikan geliat persepakbolaan Nasional
menjadi berjalan sebagai mana mestinya.
Turnamen dan kompetisi reguler atau Liga sangat jelas berbeda, kompetisi
atau Liga mencakup semua aspek dalam sepakbola salah satunya terkait
program pembinaan prestasi berjenjang. Contohnya seperti di kompetisi
ISL, dimana selain mempertandingkan klub-klub professional dikasta
tertinggi, juga mempertandingkan skuad U-21 (junior) dari masing-masing
kontestan tersebut, yang nantinya diharapakan dan diproyeksikan dapat
menggantikan peran para pemain senior baik di level klub maupun di tim
Nasional di masa depan.
Selain itu, sistem promosi dan degradasi yang ada di kompetisi atau Liga
baik dari kasta tertinggi hingga kasta terendah adalah salah satu
faktor yang membuat kegiatan sepakbola melalui kompetisi menjadi lebih
kompetitif dan memiliki daya saing. Belum lagi kesempatan bagi tim papan
atas untuk berlaga di event lebih besar di kawasan Asia seperti Liga
Champions Asia dan Piala AFC, yang secara tidak langsung dapat
mempengaruhi motivasi dan misi dari setiap klub untuk berlomba-lomba dan
bersaing menjadi yang terbaik di kompetisi lokal.
Juru taktik tim Kabau Sirah Semen Padang Nil Maizar pun pernah
menyatakan bahwa kualitas pemain takkan terjaga jika hanya digembleng
lewat turnamen yang sifatnya temporer. Terlebih dari kondisi fisik
pemain itu sendiri jika tanpa kompetisi. (sumber) Hal senada yang juga
pernah diungkapkan mantan kapten Timnas Indonesia yang saat ini masih
bermain untuk tim Pusamania Borneo, Ponaryo Astaman.
Popon sapaan akrab Ponaryo mengatakan bahwa turnamen yang digulirkan
pemerintah bisa dianggap sebagai selingan, karena dari hasil turnamen
ini setidaknya pemain sepakbola sedikit banyak bisa menambah pendapatan.
Namun Popon menambahkan bahwa turnamen bukan sebagai obat penyembuh
para pemain sepakbola. Satu-satunya solusi adalah kompetisi permanen
yang sifatnya jangka panjang. (sumber)
Lalu yang menjadi pertanyaan saat ini ialah terkait kepastian waktu
penyelengaraan kompetisi/liga, kapan roda kompetisi Liga Indonesia yang
resmi dan diakui oleh induk sepakbola dunia (FIFA) bisa kembali
dijalankan, apakah kompetisi professional dapat segera digelar meski
dalam kondisi persepakbolaan yang tidak kondusif akibat konflik yang
terjadi saat ini, atau kompetisi resmi baru bisa digelar setelah konflik
antara Kemenpora dan PSSI ini berakhir?
PSSI sendiri melalui PT.Liga Indonesia sebetulnya sudah kembali
mengeluarkan wacana terkait penyelenggaraan kompetisi yang rencananya
akan kembali diputar paling lambat pada bulan Februari 2016 mendatang,
hal tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan PT.Liga Indonesia
kepada delegasi FIFA dan AFC ketika rombongan utusan FIFA ini datang ke
Indonesia beberapa waktu yang lalu. Namun seperti yang sudah sudah,
wacana untuk menggulirkan kompetisi tersebut selalu gagal teralisasi
karena banyaknya kendala yang harus dihadapi termasuk terkait masalah
perizinan.
Dari pihak Kemenpora sendiri, Menpora Imam nahrawi pun “pernah”
menyatakan bahwa pihaknya meyakini bahwa kompetisi akan bergulir pada
Februari 2016 nanti. (sumber) Meski begitu tidak ada penjelasan lebih
lanjut terkait wacana tersebut dari pihak Kemenpora, termasuk terkait
siapakah pihak yang nantinya akan menjalankan kompetisi, apakah akan
diserahkan pada Federasi (PSSI) atau mereka sendiri (Kemenpora dan Tim
Transisi) yang berinisiatif menjalankan kompetisi.
Pada kesempatan lain terkait adanya rencana dari pihak operator
kompetisi untuk kembali menggelar kompetisi ISL, pihak Kemenpora melalui
BOPI menyatakan hanya akan memberikan rekomendasi izin penyelenggaraan
kompetisi jika operator kompetisi yaitu PT. Liga Indonesia bersedia
untuk berkoordinasi dibawah Tim Transisi bentukan Kemenpora bukan dengan
PSSI yang kepengurusannya telah dibekukan, hal yang mungkin sangat
sulit untuk dipenuhi PT.Liga Indonesia mengingat “keberadaan dan
legalitas” dari Tim Transisi bentukan Kemenpora yang ditugaskan
menggantikan kepengurusan PSSI saat inipun masih dipertanyakan.
Kabar terbaru menyebutkan jika PT. Liga Indonesia selaku promotor
bersama 18 klub kontestan ISL telah sepakat untuk menyelenggarakan
sebuah turnamen jangka panjang dengan format kompetisi dengan tajuk
Indonesia Super Competition sebagai pengganti kompetisi Liga Super
Indonesia yang dijalankan secara independen tanpa melibatkan Federasi
maupun pihak terkait lainnya.
Langkah ini diambil tidak lain sebagai upaya untuk memperoleh
rekomendasi atau izin dari para pihak terkait seperti BOPI, Kemenpora,
dan juga PSSI agar event yang akan mereka selenggarakan ini bisa
terealisasi, yang tujuannya tidak lain agar kegiatan persepakbolaan di
Indonesia bisa terus berjalan.
PT.Liga Indonesia bersama 18 peserta klub ISL juga menyepakati terkait
perubahan nama Perusahaan untuk event bertajuk Indonesia Super
Competitionn (ISC) ini, dimana seiring berjalannya waktu kelak,
perusahaan baru tersebut akan kembali melebur dan diakuisisi oleh
PT.Liga Indonesia. Dan dalam pelaksanaan event ini juga nantinya, aspek
komersil lebih dikedepankan sebagai sarana penunjang dan penopang bagi
bergulirnya kompetisi kasta dibawahnya (ISL) seperti Divisi Utama, Liga
Nusantara, dan juga Piala Soeratin. (sumber)
Sebuah gagasan atau rencana yang bagus dan cukup realistis jika melihat
dinamika yang terjadi di persepakbolaan Indonesia saat ini masih tidak
menentu, meski begitu gagasan ini sebenarnya masih menyisakan pertanyaan
terkait efektivitas dan tujuannya apabila nantinya turnamen yang
digadang-gadang setara dengan kompetisi ini dalam pelaksaanya ternyata
tidak memiliki jenjang dan arah yang jelas bagi perkembangaan
persepakbolaan Indonesia kedepannya, khususnya dalam hal mengakomodir
semua aspek yang ada dalam agenda kegiatan persepakbolaan Nasional salah
satunya terkait program pembinaan prestasi berjenjang.
Apalagi PT.Liga Indonesia sendiri menyatakan serta mewanti-wanti para
pemain khususnya para pemain asing yang bermain di event ini (ISC)
nantinya untuk bisa benar benar memahami dan melihat secara detail isi
kontrak yang akan mereka sepakati dengan pihak klub, karena apabila
nantinya terdapat masalah perihal tunggakan gaji atau sengketa lain
sebagainya, pemain tidak dapat membawa atau mengadukan
permasalahan/sengketa ini ke FIFA, alasannya tak lain karena
turnamen/kompetisi yang diadakan oleh PT.Liga kali ini bukanlah
kompetisi resmi dan tidak berada dibawah kontrol Federasi (PSSI).
Sebagai catatan saja, kompetisi regular yang resmi dan Profesional
sendiri berdasarkan statuta hanya bisa dijalankan oleh federasi resmi
(PSSI) yang berafiliasi dibawah naungan FIFA dan AFC. Dimana hal ini
ditegaskan dan diatur dalam statuta PSSI pasal 79 ayat (1), (2) dan (3).
Dalam Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) pun
mengatakan hal yang demikian, seperti yang diatur di Pasal 48 ayat (2)
jo Pasal 43 Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, dimana pada
intinya menyatakan bahwa induk organisasi cabang olahraga bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan penyelenggaraan kejuaraan olahraga baik di
tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Internasional.
Dan meski berada dibawah naungan Federasi, kompetisi Liga Profesional
Indonesia sendiri baru bisa dijalankan oleh Federasi dan badan Liga jika
sudah mendapatkan rekomendasi dari Badan Olahraga Profesional Indonesia
(BOPI) sebagai syarat pengajuan izin keramaian (penyelenggaraan
pertandingan) ke pihak Kepolisian, BOPI sendiri adalah lembaga
nonstruktural yang dibentuk, bertanggung jawab dan berada dibawah
naungan Kemenpora.
Artinya kompetisi sepakbola Indonesia yang resmi, professional, dan
diakui oleh FIFA dapat kembali bergulir jika ada koordinasi dan sinergi
yang baik antara Pemerintah (Kemenpora) dan juga Federasi (PSSI), namun
jika melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, dimana konflik
masih saja berlangsung dan belum jelas muaranya, banyak kalangan yang
justru pesimistis jika kompetisi atau Liga yang vakum hampir setahun
ini, bisa kembali diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Kembali ke judul diatas, menjadi dilema tersendiri khususnya bagi para
pelaku sepakbola dan para pecinta sepakbola Nasional dimana ketika para
stakeholder sepakbola ini sebenarnya memiliki satu suara yang sama yaitu
mengharapkan agar kompetisi resmi bisa kembali berjalan, justru
terbelenggu akibat konflik yang masih terjadi yang melibatkan Federasi
(PSSI) dan juga Pemerintah (Kemenpora) yang sudah berlangsung hampir
satu tahun ini.
Masalah lainnya ialah baik PSSI maupun Kemenpora belum memiliki dan
belum pernah memaparkan secara jelas dan terperinci terkait planning dan
langkah konkrit yang akan mereka ambil untuk menyelamatkan
persepakbolaan Indonesia saat ini, situasi atau hal yang justru bisa
berdampak negatif bagi perkembangan sepakbola itu sendiri dan dapat
menimbulkan rasa pesimistis diantara sebagian besar insan sepakbola
Nasional akan nasib sepakbola bangsa ini kedepannya.
Lagi-lagi kita sebagai pecinta sepakbola Nasional hanya bisa menunggu
dan berharap agar konflik yang terjadi saat ini bisa segera menemui
jalan penyelesaiannya, agar kompetisi reguler yang resmi dan
professional baik dari kasta tertinggi (ISL dan Divisi Utama) hingga
kasta terendah (Liga Nusantara/Amatir) di Liga Indonesia dapat kembali
bergulir.
Sikap, langkah, dan kedewasaan dari dua belah pihaklah (PSSI dan
Kemenpora) yang dapat menentukan nasib dan arah perkembangan sepakbola
bangsa ini kedepannya, entah akan menjadi lebih baik atau menjadi lebih
buruk kedepannya.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/afyanda/dilema-kompetisi-sepak-bola-siapa-peduli_569effca9a93731a05ec9f7f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/afyanda/dilema-kompetisi-sepak-bola-siapa-peduli_569effca9a93731a05ec9f7f
Tak terasa setelah
sukses dengan turnamen Piala Presiden beberapa waktu yang lalu, kini
turnamen sepakbola serupa yang mempertemukan tim-tim elit kompetisi Liga
Super Indonesia yang bertajuk Jenderal Sudirman Cup 2015 yang diadakan
oleh promotor Mahaka Sport Entertainment telah memasuki fase-fase
akhir/babak penentuan. Dua tim besar ISL yaitu Mitra Kukar dan Semen
Padang sudah memastikan diri lolos ke partai puncak dan akan bertarung
pada 24 Januari 2016 mendatang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Jakarta.
Kabarnya setelah berakhirnya turnamen Piala Jenderal Sudirman ini, akan
digelar beberapa event serupa yang akan dijalankan dengan format
Turnamen, salah satunya yang paling dekat ialah Piala Gubernur
Kalimantan Timur. Menjadi dilema dan pertanyaan dikalangan pclaku
sepakbola dan para pecinta sepakbola Nasional saat ini ialah terkait
efektivitas ajang-ajang turnamen ini bagi perkembangan persepakbolaan
Indonesia kedepannya.
Inisiatif untuk menyelenggarakan turnamen-turnamen pasca terhentinya
kompetisi ini adalah sesuatu yang positif dan patut diapresiasi, karena
secara tidak langsung, diadakannya turnamen-turnamen tersebut bisa
sejenak menghidupkan kembali atmosfer sepakbola Indonesia yang nyaris
redup pasca vakumnya kegiatan-kegiatan persepakbolaan termasuk kompetisi
dibawah naungan Federasi (PSSI) buah dari kembali pecahnya konflik di
persepakbolaan Indonesia.
Namun menjadi dilematis ketika keberadaan turnamen ini sendiri tidak
mampu menjawab sepenuhnya persoalan yang terjadi di persepakbolaan
Indonesia khususnya yang berkaitan langsung dengan nasib para pelaku
sepakbola maupun klub-klub sepakbola di Indonesia akibat vakumnya
kompetisi. Turnamen-turnamen yang diadakan pasca terhentinya kompetisi
tidak memiliki jenjang dan arah yang jelas bagi para kontestannya serta
tak mampu mengakomodasi seluruh klub sepakbola resmi yang ada di
Indonesia.
Turnamen yang diadakan beberapa waktu belalakangan hanya mampu
mengakomodasi sekitar 15 sampai 30 klub sepakbola dalam satu event,
sedangkan klub sepakbola resmi di Indonesia menyentuh angka puluhan
bahkan hampir ratusan. Sebagai catatan saja untuk dua kompetisi
professional dibawah naungan operator PT.Liga Indonesia yaitu Indonesia
Super League dan Divisi Utama jumlah klub yang terdaftar kurang lebih
sebanyak 74 klub, dimana 18 klub berasal dari kompetisi ISL dan 56 klub
berasal dari kompetisi divisi utama, sedangkan tim-tim lainya baik
divisi satu, dua dan tiga tergabung di Liga Nusantara yang dikelola oleh
Badan Liga Amatir Indonesia atau BLAI.
Artinya banyak sekali klub dan juga para pelaku sepakbola yang tidak
terakomodir dari event-event turnamen yang diadakan pasca terhentinya
kompetisi dipertengahan 2015 lalu. Jika mencoba untuk bersikap
realistis, turnamen-turnamen yang diadakan oleh berbagai pihak saat ini
tak lebih hanya sebatas hiburan semata dan ajang pelipu lara pasca
terhentinya kompetisi, khususunya bagi sebagian pelaku sepakbola dan
para pecinta sepakbola Nasional.
Kondisi dilematis lainnya juga harus dihadapi oleh manajemen klub maupun
para pemain, salah satunya ialah terkait masalah kontrak. Jangka waktu
penyelenggaraan turnamen yang pendek atau terbatas, membuat beberapa
klub kontestan turnamen nampak kebingungan untuk menyodorkan kontrak
kepada pemainnya, karena biasanya durasi waktu kontrak yang disodorkan
manajemen klub kepada pemain rata-rata berdurasi (minimal) selama satu
musim kompetisi.
Akibatnya banyak pelaku sepakbola baik pemain maupun pelatih yang
akhirnya memilih jalan untuk mencoba mengadu nasib di kompetisi Negara
lain dikawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, hingga ke
Timor Leste yang iklim kompetisinya sebenarnya bisa dibilang sebanding
bahkan tak lebih kompetitif dibandingkan kompetisi Liga Indonesia.
Ketidakjelasan terkait kompetisi dan juga kontraklah yang menjadi akar
masalahnya.
Baik pemain maupun asosiasi pemain sendiri sebenarnya sudah meminta
pihak klub untuk memberikan kontrak yang jelas kepada pemain sebelum
mengikuti event atau ajang sepakbola seperti turnamen ini, karena urusan
kontrak ini bukan hanya terkait masalah royalti saja, melainkan jaminan
(tanggung jawab) dari pihak klub yang mereka dapatkan ketika mengalami
kendala tertentu seperti masalah cedera yang dapat menimpa mereka saat
berlaga di ajang atau turnamen sepakbola tersebut.
Bahkan Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) telah
mengeluarkan pernyataan dengan memboikot serta menolak untuk bermain di
semua turnamen yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini hingga
ada kejelasan dari para pihak yang berkepentingan, terkait kepastian
kembali digelarnya kompetisi reguler yang resmi dan professional.
(sumber)
Memang benar bahwa keberadaan turnamen-turnamen ini sendiri mampu
menepis anggapan sebagian pihak bahwa sepakbola Indonesia telah mati
karena berhentinya kompetisi, namun apakah benar jika keberadaan
turnamen tersebut mampu mengembalikan geliat persepakbolaan Nasional
menjadi berjalan sebagai mana mestinya.
Turnamen dan kompetisi reguler atau Liga sangat jelas berbeda, kompetisi
atau Liga mencakup semua aspek dalam sepakbola salah satunya terkait
program pembinaan prestasi berjenjang. Contohnya seperti di kompetisi
ISL, dimana selain mempertandingkan klub-klub professional dikasta
tertinggi, juga mempertandingkan skuad U-21 (junior) dari masing-masing
kontestan tersebut, yang nantinya diharapakan dan diproyeksikan dapat
menggantikan peran para pemain senior baik di level klub maupun di tim
Nasional di masa depan.
Selain itu, sistem promosi dan degradasi yang ada di kompetisi atau Liga
baik dari kasta tertinggi hingga kasta terendah adalah salah satu
faktor yang membuat kegiatan sepakbola melalui kompetisi menjadi lebih
kompetitif dan memiliki daya saing. Belum lagi kesempatan bagi tim papan
atas untuk berlaga di event lebih besar di kawasan Asia seperti Liga
Champions Asia dan Piala AFC, yang secara tidak langsung dapat
mempengaruhi motivasi dan misi dari setiap klub untuk berlomba-lomba dan
bersaing menjadi yang terbaik di kompetisi lokal.
Juru taktik tim Kabau Sirah Semen Padang Nil Maizar pun pernah
menyatakan bahwa kualitas pemain takkan terjaga jika hanya digembleng
lewat turnamen yang sifatnya temporer. Terlebih dari kondisi fisik
pemain itu sendiri jika tanpa kompetisi. (sumber) Hal senada yang juga
pernah diungkapkan mantan kapten Timnas Indonesia yang saat ini masih
bermain untuk tim Pusamania Borneo, Ponaryo Astaman.
Popon sapaan akrab Ponaryo mengatakan bahwa turnamen yang digulirkan
pemerintah bisa dianggap sebagai selingan, karena dari hasil turnamen
ini setidaknya pemain sepakbola sedikit banyak bisa menambah pendapatan.
Namun Popon menambahkan bahwa turnamen bukan sebagai obat penyembuh
para pemain sepakbola. Satu-satunya solusi adalah kompetisi permanen
yang sifatnya jangka panjang. (sumber)
Lalu yang menjadi pertanyaan saat ini ialah terkait kepastian waktu
penyelengaraan kompetisi/liga, kapan roda kompetisi Liga Indonesia yang
resmi dan diakui oleh induk sepakbola dunia (FIFA) bisa kembali
dijalankan, apakah kompetisi professional dapat segera digelar meski
dalam kondisi persepakbolaan yang tidak kondusif akibat konflik yang
terjadi saat ini, atau kompetisi resmi baru bisa digelar setelah konflik
antara Kemenpora dan PSSI ini berakhir?
PSSI sendiri melalui PT.Liga Indonesia sebetulnya sudah kembali
mengeluarkan wacana terkait penyelenggaraan kompetisi yang rencananya
akan kembali diputar paling lambat pada bulan Februari 2016 mendatang,
hal tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan PT.Liga Indonesia
kepada delegasi FIFA dan AFC ketika rombongan utusan FIFA ini datang ke
Indonesia beberapa waktu yang lalu. Namun seperti yang sudah sudah,
wacana untuk menggulirkan kompetisi tersebut selalu gagal teralisasi
karena banyaknya kendala yang harus dihadapi termasuk terkait masalah
perizinan.
Dari pihak Kemenpora sendiri, Menpora Imam nahrawi pun “pernah”
menyatakan bahwa pihaknya meyakini bahwa kompetisi akan bergulir pada
Februari 2016 nanti. (sumber) Meski begitu tidak ada penjelasan lebih
lanjut terkait wacana tersebut dari pihak Kemenpora, termasuk terkait
siapakah pihak yang nantinya akan menjalankan kompetisi, apakah akan
diserahkan pada Federasi (PSSI) atau mereka sendiri (Kemenpora dan Tim
Transisi) yang berinisiatif menjalankan kompetisi.
Pada kesempatan lain terkait adanya rencana dari pihak operator
kompetisi untuk kembali menggelar kompetisi ISL, pihak Kemenpora melalui
BOPI menyatakan hanya akan memberikan rekomendasi izin penyelenggaraan
kompetisi jika operator kompetisi yaitu PT. Liga Indonesia bersedia
untuk berkoordinasi dibawah Tim Transisi bentukan Kemenpora bukan dengan
PSSI yang kepengurusannya telah dibekukan, hal yang mungkin sangat
sulit untuk dipenuhi PT.Liga Indonesia mengingat “keberadaan dan
legalitas” dari Tim Transisi bentukan Kemenpora yang ditugaskan
menggantikan kepengurusan PSSI saat inipun masih dipertanyakan.
Kabar terbaru menyebutkan jika PT. Liga Indonesia selaku promotor
bersama 18 klub kontestan ISL telah sepakat untuk menyelenggarakan
sebuah turnamen jangka panjang dengan format kompetisi dengan tajuk
Indonesia Super Competition sebagai pengganti kompetisi Liga Super
Indonesia yang dijalankan secara independen tanpa melibatkan Federasi
maupun pihak terkait lainnya.
Langkah ini diambil tidak lain sebagai upaya untuk memperoleh
rekomendasi atau izin dari para pihak terkait seperti BOPI, Kemenpora,
dan juga PSSI agar event yang akan mereka selenggarakan ini bisa
terealisasi, yang tujuannya tidak lain agar kegiatan persepakbolaan di
Indonesia bisa terus berjalan.
PT.Liga Indonesia bersama 18 peserta klub ISL juga menyepakati terkait
perubahan nama Perusahaan untuk event bertajuk Indonesia Super
Competitionn (ISC) ini, dimana seiring berjalannya waktu kelak,
perusahaan baru tersebut akan kembali melebur dan diakuisisi oleh
PT.Liga Indonesia. Dan dalam pelaksanaan event ini juga nantinya, aspek
komersil lebih dikedepankan sebagai sarana penunjang dan penopang bagi
bergulirnya kompetisi kasta dibawahnya (ISL) seperti Divisi Utama, Liga
Nusantara, dan juga Piala Soeratin. (sumber)
Sebuah gagasan atau rencana yang bagus dan cukup realistis jika melihat
dinamika yang terjadi di persepakbolaan Indonesia saat ini masih tidak
menentu, meski begitu gagasan ini sebenarnya masih menyisakan pertanyaan
terkait efektivitas dan tujuannya apabila nantinya turnamen yang
digadang-gadang setara dengan kompetisi ini dalam pelaksaanya ternyata
tidak memiliki jenjang dan arah yang jelas bagi perkembangaan
persepakbolaan Indonesia kedepannya, khususnya dalam hal mengakomodir
semua aspek yang ada dalam agenda kegiatan persepakbolaan Nasional salah
satunya terkait program pembinaan prestasi berjenjang.
Apalagi PT.Liga Indonesia sendiri menyatakan serta mewanti-wanti para
pemain khususnya para pemain asing yang bermain di event ini (ISC)
nantinya untuk bisa benar benar memahami dan melihat secara detail isi
kontrak yang akan mereka sepakati dengan pihak klub, karena apabila
nantinya terdapat masalah perihal tunggakan gaji atau sengketa lain
sebagainya, pemain tidak dapat membawa atau mengadukan
permasalahan/sengketa ini ke FIFA, alasannya tak lain karena
turnamen/kompetisi yang diadakan oleh PT.Liga kali ini bukanlah
kompetisi resmi dan tidak berada dibawah kontrol Federasi (PSSI).
Sebagai catatan saja, kompetisi regular yang resmi dan Profesional
sendiri berdasarkan statuta hanya bisa dijalankan oleh federasi resmi
(PSSI) yang berafiliasi dibawah naungan FIFA dan AFC. Dimana hal ini
ditegaskan dan diatur dalam statuta PSSI pasal 79 ayat (1), (2) dan (3).
Dalam Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) pun
mengatakan hal yang demikian, seperti yang diatur di Pasal 48 ayat (2)
jo Pasal 43 Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, dimana pada
intinya menyatakan bahwa induk organisasi cabang olahraga bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan penyelenggaraan kejuaraan olahraga baik di
tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Internasional.
Dan meski berada dibawah naungan Federasi, kompetisi Liga Profesional
Indonesia sendiri baru bisa dijalankan oleh Federasi dan badan Liga jika
sudah mendapatkan rekomendasi dari Badan Olahraga Profesional Indonesia
(BOPI) sebagai syarat pengajuan izin keramaian (penyelenggaraan
pertandingan) ke pihak Kepolisian, BOPI sendiri adalah lembaga
nonstruktural yang dibentuk, bertanggung jawab dan berada dibawah
naungan Kemenpora.
Artinya kompetisi sepakbola Indonesia yang resmi, professional, dan
diakui oleh FIFA dapat kembali bergulir jika ada koordinasi dan sinergi
yang baik antara Pemerintah (Kemenpora) dan juga Federasi (PSSI), namun
jika melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, dimana konflik
masih saja berlangsung dan belum jelas muaranya, banyak kalangan yang
justru pesimistis jika kompetisi atau Liga yang vakum hampir setahun
ini, bisa kembali diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Kembali ke judul diatas, menjadi dilema tersendiri khususnya bagi para
pelaku sepakbola dan para pecinta sepakbola Nasional dimana ketika para
stakeholder sepakbola ini sebenarnya memiliki satu suara yang sama yaitu
mengharapkan agar kompetisi resmi bisa kembali berjalan, justru
terbelenggu akibat konflik yang masih terjadi yang melibatkan Federasi
(PSSI) dan juga Pemerintah (Kemenpora) yang sudah berlangsung hampir
satu tahun ini.
Masalah lainnya ialah baik PSSI maupun Kemenpora belum memiliki dan
belum pernah memaparkan secara jelas dan terperinci terkait planning dan
langkah konkrit yang akan mereka ambil untuk menyelamatkan
persepakbolaan Indonesia saat ini, situasi atau hal yang justru bisa
berdampak negatif bagi perkembangan sepakbola itu sendiri dan dapat
menimbulkan rasa pesimistis diantara sebagian besar insan sepakbola
Nasional akan nasib sepakbola bangsa ini kedepannya.
Lagi-lagi kita sebagai pecinta sepakbola Nasional hanya bisa menunggu
dan berharap agar konflik yang terjadi saat ini bisa segera menemui
jalan penyelesaiannya, agar kompetisi reguler yang resmi dan
professional baik dari kasta tertinggi (ISL dan Divisi Utama) hingga
kasta terendah (Liga Nusantara/Amatir) di Liga Indonesia dapat kembali
bergulir.
Sikap, langkah, dan kedewasaan dari dua belah pihaklah (PSSI dan
Kemenpora) yang dapat menentukan nasib dan arah perkembangan sepakbola
bangsa ini kedepannya, entah akan menjadi lebih baik atau menjadi lebih
buruk kedepannya.
Salam…
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/afyanda/dilema-kompetisi-sepak-bola-siapa-peduli_569effca9a93731a05ec9f7f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/afyanda/dilema-kompetisi-sepak-bola-siapa-peduli_569effca9a93731a05ec9f7f
Tidak ada komentar:
Posting Komentar